bordersongs.org- Istilah Doomscrolling memang sangat relevan. Fenomena ini bukan sekadar “main HP”,
melainkan mekanisme psikologis di mana seseorang terus-menerus menggulir
(scrolling) berita buruk atau konten negatif di media sosial,
meskipun hal itu membuatnya merasa cemas atau sedih.
Mengenal Adiksi Doomscrolling: Kebiasaan Digital yang Menggerus Kesehatan Mental
Pernahkah berniat membuka media sosial hanya untuk 5 menit, namun berakhir
menghabiskan 2 jam
membaca berita tentang bencana, konflik politik, atau tren kesehatan yang menakutkan
Jika ya, berarti sedang terjebak dalam Doomscrolling.
Apa itu Doomscrolling
Doomscrolling adalah perilaku mengonsumsi aliran berita negatif secara terus-menerus di internet
atau media sosial.
Istilah ini menjadi populer karena otak manusia secara alami dirancang untuk waspada terhadap ancaman.
Di dunia digital, kewaspadaan ini berubah menjadi obsesi untuk mencari informasi “buruk” sebagai bentuk
persiapan diri, padahal yang terjadi justru sebaliknya: kelelahan mental.
Mengapa kita sulit berhenti
Ada alasan biologis dan teknis di balik kecanduan ini:
1. Bias Negativitas: Otak kita lebih memperhatikan informasi negatif sebagai mekanisme bertahan hidup.
2. Algoritma Media Sosial: Platform digital dirancang untuk memberikan apa yang di lihat
3. Ilusi Kendali: Kita merasa dengan membaca semua berita buruk, kita menjadi lebih “siap”,
padahal kita hanya menumpuk kecemasan.
Cara memutus rantai Doomscrolling
1. Tetapkan Batas Waktu: Gunakan fitur App Timer di ponsel Anda untuk membatasi akses
media sosial.
2. Aturan “No Phone” di Jam Tertentu: Jangan menyentuh ponsel 30 menit setelah bangun
tidur dan 1 jam sebelum tidur.
3. Cari Konten Penyeimbang: Ikuti akun yang fokus pada hobi, komedi, atau perkembangan
sains yang positif.
